Sabtu, 20 November 2021

SEKOLAH RAMAH ANAK

BAGIAN 1
Apa itu Sekolah Ramah Anak?

DEFINISI SEKOLAH RAMAH ANAK

 Ramah Anak (SRA) adalah satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang mampu memberikan pemenuhan hak dan perlindungan khusus bagi anak termasuk mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di satuan pendidikan. 

KONSEP SEKOLAH RAMAH ANAK 

Ada 4 konsep SRA, sebagaimana berikut: 1. Mengubah paradigma dari pengajar menjadi pembimbing, orang tua dan sahabat anak. 2. Orang dewasa memberikan keteladanan dalam keseharian. 3. Memastikan orang dewasa di sekolah terlibat penuh dalam melindungi anak. 4. Memastikan orang tua dan anak terlibat aktif dalam memenuhi 6 komponen SRA. 

PRINSIP SEKOLAH RAMAH ANAK

Prinsip SRA merupakan turunan dari hak dasar anak,  terdiri dari: 1. Kepentingan terbaik bagi anak 2. Non diskriminasi 3. Partisipasi Anak 4. Hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan 5. Pengelolaan yang baik 

KONDISI YANG DIHARAPKAN SEKOLAH RAMAH ANAK

Kondisi yang diharapkan dalam SRA terdiri dari BARIISAN yaitu: Bersih, Asri, Ramah, Indah, Inklusif, Sehat, Aman dan Nyaman 

KOMPONEN SEKOLAH RAMAH ANAK

  1. Kebijakan SRAKebijakan Sekolah Ramah Anak merupakan suatu komitmen daerah dan sekolah dalam mewujudkan SRA. Ditunjukkan dalam bentuk deklarasi, SK tim SRA, SK Pemerintah Daerah dan kebijakan sekolah lainnya yang berperspektif anak.
  2. Pendidik dan Tenaga Kependidikan Terlatih Hak Anak dan  SRA Minimal ada 2 orang pendidik/tenaga kependidikan yang terlatih KHA dan SRA.
  3. Proses Belajar yang Ramah Anak Menciptakan proses belajar dan mengajar yang menyenangkan. Proses pendisiplinan yang dilakukan tanpa merendahkan martabat anak dan tanpa kekerasan. 
  4. Sarana dan Prasarana Ramah Anak Memastikan menjaga agar sarana prasarana di sekolah nyaman, aman dan tidak membahayakan anak. Seperti pemasangan rambu-rambu di tempat berbahaya, pengumpulan ujung meja, toilet bersih dengan air mengalir, pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik dan lain-lain.
  5. Partisipasi Anak Anak dilibatkan dalam kegiatan perencanaan program serta tata tertib, pelaksanaan dan evaluasi SRA. Anak dijadikan sebagai pengawal SRA dan peer educator.  Hak ini dilakukan agar anak merasa diakui dan dapat berperan aktif dalam mewujudkan Sekolah Ramah Anak. 
  6. Partisipasi Orang Tua, Organisasi Kemasyarakatan, Dunia Usaha, Stakeholder lainnya dan Alumni. Melibatkan orangtua, organisasi kemasyarakatan, dunia usia, stakeholder lain dan alumni dalam mendukung sekolah ramah anak, baik berperan memberikan bantuan dalam bentuk sarana maupun kegiatan untuk mewujudkan SRA.


BAGIAN 2
PEMBENTUKAN SEKOLAH RAMAH ANAK
Tahapan Pembentukan Sekolah Ramah Anak atau Tahapan “MAU” 

Sosialisasi Sekolah ramah Anak
Sosialisasi SRA dilakukan oleh pemerintah daerah melalui Sekber SRA atau Sub Gugus Tugas KLA klaster pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya di provinsi/kabupaten/kota. Sosialisasi diberikan pada Stakeholder dalam satuan pendidikan seperti kepala sekolah atau guru penggerak. 


permintaan kepada satuan pendidikan untuk “mau” menjadi SRA 
Permintaan kepada satuan pendidikan untuk “MAU” menjadi SRA dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu: 
1) Top Down: Pemerintah Daerah atau Perangkat Daerah terkait mengajak atau meminta satuan pendidikan di wilayahnya untuk menjadi SRA. Semua satuan pendidikan yang “MAU” akan dibuatkan SK SRA ditetapkan oleh Kepala Daerah/Kepala Dinas Pendidikan/ Kanwil/Kantor Agama/ Dinas PPPA. 
2) Bottom Up: Proses dimana Satuan Pendidikan mempunyai keinginan sendiri untuk “MAU” menjadi SRA. Satuan pendidikan melaporkan kesediaannya kepada Dinas PPPA yang akan mengkompilasi dengan daftar SRA lainnya.


Penetapan SK Sekolah Ramah Anak

Pemerintah daerah membuat SK yang ditetapkan oleh Kepala Daerah atau Kepala Perangkat Daerah terkait untuk semua satuan pendidikan yang “MAU” memulai proses SRA. SelanjutnyaPemerintah daerah melaporkankepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak c.q. Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak dan Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya terhadap SK yang telah ditetapkan.


Deklarasi Sekolah Ramah Anak

Untuk memperkuat komitmen daerah dan satuan pendidikan, maka dilakukan deklarasi yang dipimpin oleh Kepala Daerah atau Perangkat Daerah terkait bersama semua satuan pendidikan yang mau menjadi SRA. Deklarasi dapat dilakukan bersama kegiatan daerah lainnya atau berupa kegiatan khusus. 


Pemasangan Papan Nama Sekolah Ramah Anak

Selanjutnya untuk memperlihatkan komitmen daerah dan satuan pendidikan dalam membentuk SRA, maka Satuan pendidikan melakukan pemasangan papan nama SRA dengan bantuan pemerintah daerah. Hal ini sebagai penanda dan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat atau eksternal satuan pendidikan dan internal satuan pendidikan.


BAGIAN 3
Pengembangan Sekolah Ramah Anak
Tahapan Pengembangan Sekolah Ramah Anak atau Tahapan “MAMPU” & “MAJU” 

TAHAPAN PENGEMBANGAN SEKOLAH RAMAH ANAK OLEH PEMERINTAH DAERAH 

  1. Advokasi Sekber SRA/Sub Gugus Tugas KLA Klaster Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang, Dan Kegiatan Budaya melakukan advokasi dengan cara audiensi/pertemuan kepada Kepala Daerah di tingkat Provinsi/ Kabupaten/ Kota, agar mendukung pelaksanaan SRA. Pelatihan dan Bimbingan Teknis
  2. Pelatihan atau Bimbingan Teknis 
  3. Fasilitasi
  4. Kegiatan yang dilakukan pemerintah daerah dalam pengembangan SRA
  • Membuat kebijakan SRA 
  • Koordinasi dengan Disdik dan Kanwil/Kantor Kemenag 
  • Membentuk Sekber SRA 
  • Sosialisasi kepada seluruh Kepala Satuan Pendidikan tingkat Provinsi/Kab/Kota 
  • Mengajak Satuan Pendidikan untuk membentuk dan mengembangkan SRA 
  • Membuat SK penetapan sekolah yang mau 
  • Deklarasi SRA 
  • Melaporkan SK penetapan kepada KPPPA 
  • Mendorong satuan pendidikan yang sudah di SK-kan untuk membuat Papan Nama SRA 
  • Memberikan Pelatihan KHA dan SRA kepada minimal 2 guru di setiap satuan pendidikan yang di SK-kan 
  • Pendampingan/monev kepada Satuan Pendidikan yang sudah di SK kan 
  • Bekerjasama dengan Dinas yang memiliki Program berbasis sekolah 
  • Mendorong semua SRA untuk mengisi kuesioner SRA di awal tahun 
  • Mengusulkan Satuan Pendidikan untuk mendapat penghargaan 
  • Membuat KIE SRA
TAHAPAN PENGEMBANGAN SEKOLAH RAMAH ANAK OLEH SATUAN PENDIDIKAN
  1. Membentuk Tim Pelaksana SRA 
  2. Menyusun ulang tata tertib Satuan Pendidikan dan mengisi daftar periksa potensi bersama Orang Tua dan Anak. 
  3. Perencanaan oleh Tim Pelaksanaan SRA
  4. Kegiatan yang dilakukan oleh Satuan Pendidikan dalam Pengembangan SRA
  • Menyusun Rencana Aksi/Program Tahunan 
  • Membuat mekanisme pengaduan 
  • Merencanakan inovasi melibatkan orang tua dan anak untuk mewujudkan SRA 
  • Merencanakan inovasi melibatkan orang tua dan anak untuk mewujudkan SRA 
  • Melaksanakan Rencana Aksi/Program SRA Tahunan dengan mengoptimalkan semua sumber daya 
  • Melakukan upaya pemenuhan komponen SRA 
  • Mengikuti pelatihan dan pendampingan oleh Pemda 
  • Merencanakan kesinambungan kebijakan, program, dan kegiatan yang sudah ada (UKS, Adiwiyata, dll) serta program lainnya


BAGIAN 4

Siapa Saja Yang Terlibat di Sekolah Ramah Anak?

Pengembangan sekolah yang ramah anak di dalam satuan pendidikan merupakan tanggungjawab pilar sekolah ramah anak yang terdiri dari Satuan Pendidikan (Sekolah atau Madrasah), Orang Tua dan Peserta Didik. Selain itu Sekolah Ramah Anak juga di dukung oleh 17 Kementerian dan Lembaga yang berkomitmen dalam pembentukan dan pengembangan, yang terdiri dari: 

1,Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 
2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 
3. Kementerian Agama 
4. Kementerian Kesehatan 
5. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 
6. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional 
7. Badan Nasional Penanggulangan Bencana 8. Badan Pengawas Obat dan Makanan 
9. Komisi Perlindungan Anak Indonesia 
10. Badan Narkotika Nasional 
11. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme 
12. Kementerian PUPR 
13. Kementerian Komunikasi dan Informasi 
14. Kementerian Dalam Negeri 
15. BAPPENAS/ Kementerian PPN 
16. Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan 
17. Kementerian Sosial 

LAMPIRAN

Jumat, 22 Oktober 2021

Rangkuman Materi Program Guru Belajar dan Berbagi seri Guru Merdeka Belajar

Program Guru Belajar dan Berbagi seri Guru Merdeka Belajar merupakan upaya membantu guru dan satuan pendidikan memahami konsep guru merdeka belajar dan meningkatkan kompetensi pengembangan diri secara mandiri untuk mengembangkan karier. 

Program Guru Belajar dan Berbagi seri Guru Merdeka Belajar dirancang untuk menjawab persoalan yang dirasakan guru dalam menjalani profesinya. Guru seringkali memiliki banyak tugas dan tanggung jawab baik yang terkait dengan pembelajaran dan administrasi. Guru sering mengikuti banyak pelatihan namun tidak sesuai dengan kebutuhannya. Guru yang merasa kelelahan dan merasa tidak berkembang kariernya meskipun sudah mengajar bertahun-tahun. Program Guru Belajar dan Berbagi Seri Guru Merdeka Belajar adalah program yang bertujuan untuk membantu guru mendapatkan kunci pengembangan diri: kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karier. 

Apa tujuan program Guru Belajar seri Guru Merdeka Belajar?

Tujuan Umum:

  • Mengacu pada model kompetensi guru, program Guru Merdeka Belajar akan meningkatkan kompetensi 
  • Menunjukkan kebiasaan refleksi untuk pengembangan diri secara mandiri 
  • Berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier

Tujuan Khusus:

  • Mengenali miskonsepsi pendidikan sehingga peserta bisa berkembang menjadi Guru Merdeka Belajar yang menjadi penggerak perubahan pembelajaran. 
  • Mengenali konsep pengembangan diri Guru Merdeka Belajar sehingga bisa melejitkan karier dan sekaligus berkontribusi terhadap pendidika
Siapa yang bisa menjadi peserta program Guru Belajar seri Guru Merdeka Belajar?

  • Guru PAUD, SD, SMP, SMA, SMK dan SLB
  • Pemimpin Pendidikan
  • Telah memiliki Akun SIMPKB


Tujuan Pendidikan

Untuk memahami tujuan utama pendidikan dalam aktivitas ini Anda akan diajak untuk melihat video dua pengajaran yang berbeda. Dalam video ini terdapat interaksi antara guru dan murid. Dalam dunia pendidikan kita seringkali melihat sesuatu dari sudut pandang orang dewasa, jarang sekali melihat dari sudut anak. Untuk itu agar lebih memahami apa tujuan utama pendidikan. Silakan simak video berikut ini. Cermati dengan seksama dan refleksikan pada diri Anda sebagai murid.  

Posisikan diri sebagai murid untuk menjawab pertanyaan saat menonton video
Apa yang Anda rasakan sebagai murid?

Apa yang Anda pikirkan sebagai murid? 

Perilaku apa yang Anda tunjukkan sebagai murid?


Saat Anda mencapai aktivitas ini, artinya Anda sudah merefleksikan pengalaman setelah menonton video 2 cara pengajaran yang berbeda. Tahukah Anda, bahwa sebenarnya kita dapat menemukan Miskonsepsi Belajar dari video tersebut? Seringkali kita memang terjebak bahwa belajar untuk mengejar nilai. Padahal terdapat tujuan jangka panjang dari proses pendidikan, yaitu menyiapkan anak menghadapi tantangan kehidupan. Untuk mengetahui Miskonsepsi Belajar dan Apa itu Belajar silakan membaca e-book berikut ini.

KONSEP MERDEKA BELAJAR

Merefleksikan Filosofi Ki Hajar Dewantara

Ketika kita membahas tujuan pendidikan dan merefleksikan pengalaman menderita belajar pada topik sebelumnya. Kita telah sepakat bahwa tujuan pendidikan bukanlah untuk siap sekolah sehingga hanya fokus pada hafalan dan nilai angka. Bahwa tujuan pendidikan sebenarnya adalah untuk mempersiapkan bekal hidup anak untuk menghadapi tantangan kedepannya, fokus pada kompetensi, mengajarkan murid untuk menalar dan kemandirian.    

Bagaimana konsep Merdeka dalam pendidikan?

Kata merdeka adalah kata yang dekat dengan kita sebagai kata yang menggambarkan pergerakan dan semangat perjuangan. Dalam pendidikan kata Merdeka bukanlah hal yang baru. Di tahun 1952 dalam peringatan Taman Siswa Ki Hajar Dewantara mencetuskan semangat merdeka dalam buku Peringatan Taman Siswa 30 tahun “…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain”

Jika kita refleksikan bersama kata merdeka dalam konteks perjuangan dan pendidikan memiliki kesamaan spirit yaitu mampu mengatur dirinya sendiri.  Untuk pemahaman lebih utuh silakan Anda membaca ebook berikut ini. Selamat membaca!


Kaitan Filosofi Pendidikan KHD dengan Merdeka Belajar

Bapak dan Ibu telah mempelajari tujuan pendidikan berdasarkan filosofi Ki Hajar Dewantara.  Meski gagasan Ki Hajar Dewantara telah dikenal lama namun jarang sekali diajarkan di dunia pendidikan Indonesia. Pada tahun 2007, Bagus Takwin menuliskan kajian gagasan Ki Hajar Dewantara dengan konstruktivisme (bit.ly/bagustakwinKHD). Pada tahun 2016 tema Merdeka Belajar diangkat dalam Temu Pendidik Nusantara oleh Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal yang juga menerbitkan buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas (bit.ly/bukumerdekabelajar).  YB Mangunwijaya juga menuliskan gagasan tentang merdeka belajar dalam buku Sekolah Merdeka, Pendidikan Pemerdekaan. 

Penting merawat kemerdekaan dalam pendidikan sebagai buah pikiran Ki Hadjar. Namun jauh lebih penting adalah merawat tradisi berdialektika yang diteladankan. Bila bercita-cita menjadi dan terus menjadi negara merdeka, maka kemerdekaan hendaknya tumbuh berkembang sejak di kelas. Artinya, penting untuk kita sebagai pendidik memahami bagaimana menumbuhkan merdeka di kelas.  

Apa kaitan filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Merdeka Belajar? 

Untuk memahami gambaran keterkaitannya berikut bagan kaitan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan Merdeka Belajar.


Murid Merdeka Belajar

Kita telah mempelajari tentang Merdeka Belajar. Membayangkan bagaimana anak yang mandiri belajar yang bisa menentukan tujuan belajarnya, mandiri menentukan cara dan merefleksikan proses belajarnya. Bagaimana contoh praktik baik yang menggambarkan murid merdeka belajar? Berikut terdapat e-book praktik baik Guru Lany dari Komunitas Guru Belajar Nusantara Papua yang diambil dari buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas (2017).  Catatlah poin-poin penting dari praktik baik Guru Lany dan Anda bisa merefleksikan dengan praktik pembelajaran di kelas Anda. Selamat membaca!


Memahami Konsep Merdeka Belajar

Kita telah mempelajari tujuan pendidikan dan merefleksikan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Apa poin-poin penting yang Anda cermati dari penjelasan tentang tujuan pendidikan

Kita telah mempelajari tujuan pendidikan yaitu menyiapkan hidup, fokus pada kompetensi sehingga ujian bersifat bermakna, meningkatkan kemampuan menalar dan mengembangkan kemandirian. Fakta yang menarik bahwa anak-anak kita hidup pada Abad Ke-21 tapi Dididik dengan Pendidikan Abad ke-19. Bagaimana kita siap mendidik anak-anak yang sesuai dengan pendidikan Abad ke-21? Solusinya adalah Merdeka Belajar. Apa itu Merdeka Belajar? Mengapa Merdeka Belajar? Bagaimana menerapkan Merdeka Belajar? Berikut terdapat e-book, silakan membaca e-book pada aktivitas ini untuk mendapatkan pemahaman tentang Merdeka Belajar.


Konsep Guru Merdeka Belajar

Bagaimana Ciri Guru Merdeka Belajar?

Menurut Johnson (2005), profesi guru adalah profesi dengan level stress tertinggi.  Riset National Foundation for Education Research menunjukkan 1 dari 5 guru mengalami stress. Pines (1981) menganalisa kelelahan emosi adalah respon guru dalam kondisi mengalami rasa gagal dan keraguan diri yang menyebabkan guru merasa terjebak dan tidak berdaya. 

Tingkat stres yang tinggi dapat disebabkan oleh tantangan-tantangan yang dihadapi guru, seperti menangani puluhan murid dengan karakter yang beragam dengan karakter orangtua yang berbeda pula. Belum lagi guru menghadapi tuntutan dari manajemen pendidikan dan perlu beradaptasi dengan kebijakan, isu sosial, atau kondisi teknologi yang terus berubah. Tidak jarang pula guru masih harus bekerja di malam hari dan akhir pekan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Penelitian yang dilakukan Mojgan Karamooz dan Mehry Haddad Narafshan (2017) menjelaskan tentang hubungan self regulated dengan kelelahan emosi. Semakin kompleks beban guru hal ini mendorong kebutuhan untuk mengatur dirinya. Guru yang dapat mengatur dirinya mampu mengurangi dampak kelelahan emosi. 

Bagaimana guru memiliki kemampuan mengatur dirinya? Kuncinya adalah menjadi guru merdeka belajar. Berikut infografik yang dapat membantu Anda untuk mendapat pemahaman bagaimana ciri guru merdeka belajar?


Mengapa Kita Harus Menjadi Guru Merdeka Belajar?



Pengembangan Diri Guru Merdeka Belajar

Mendengar Pengalaman Guru Merdeka Belajar

Berikut terdapat Kisah Guru Ameliasari dari Komunitas Guru Belajar Nusantara Salatiga. Anda dapat menyimak untuk lebih memahami tentang Guru Merdeka Belajar. Siapkan catatan dan alat tulis untuk menulis poin-poin penting dari informasi yang Anda peroleh.

Sebelum Anda melanjutkan ke topik berikutnya, Anda dapat melakukan proses refleksi pengalaman pribadi Anda terkait konsep guru merdeka belajar melalui pengalaman Guru Iwan Apriyana dari Komunitas Guru Belajar Nusantara Bandung yang mengajar di SMP Terpadu YP 17 Nagreg. Menghadapi pandemi di mana sekolah mengharuskan pembelajaran jarak jauh (PJJ), Guru Iwan berusaha agar murid tetap mengalami pembelajaran. Salah satunya dengan menerapkan informasi yang didapat dari buku. Dengan perubahan cara pendekatan kepada murid, Guru Iwan berhasil menjadikan murid tetap merdeka belajar saat PJJ. Anda dapat melihat informasi lebih lengkap dalam video. Mari refleksikan pengembangan diri apa yang Anda telah lakukan di masa pandemi agar merdeka belajar masih dapat dirasakan oleh murid.

Kunci Pengembangan Guru Merdeka Belajar 

Apakah Anda telah merefleksikan pengalaman pengembangan diri Anda sebagai guru? Anda akan melihat sebuah video yang menjelaskan empat kunci pengembangan diri guru merdeka belajar. Silakan simak dan pelajari dengan seksama. Catat informasi, inspirasi serta poin penting yang Anda peroleh.



Empat kunci pengembangan guru merdeka belajar menjadi tolok ukur bagaimana seharusnya guru tidak boleh berjalan di tempat. Sejauh mana Anda mengembangkan diri menjadi guru merdeka belajar? Yuk, refleksikan pengembangan diri Anda melalui rubrik berikut. Melalui refleksi ini, Anda akan mendapat gambaran lebih jelas tentang capaian pengembangan diri Anda.



Kamis, 07 Oktober 2021

Rangkuman Materi Program Guru Belajar Seri Pengelolaan Pembelajaran di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif (SPPI)

Program Ayo Guru Belajar Seri Pengelolaan Pembelajaran di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif (SPPI) merupakan kegiatan yang dirancang oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus untuk menjawab tantangan guru-guru di SPPI agar mereka mampu melayani keberagaman peserta didik di kelasnya masing-masing.

Peserta didik penyandang disabilitas di SPPI memerlukan bimbingan khusus untuk memperoleh hasil belajar yang optimal. Setiap peserta didik memiliki potensi, hambatan, dan kebutuhan berbeda, oleh karena itu program pembelajaran bagi peserta didik yang bersangkutan mestinya dibedakan dengan peserta didik lainnya.

Guru dan/atau tenaga kependidikan (Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah) di SPPI diharapkan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif guna bisa melayani dan membimbing peserta didik penyandang disabilitas. Program Guru Belajar dan Berbagi seri Pengelolaan Pembelajaran ini menjadi solusi anternatif untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pemahaman guru yang bersangkutan. Di sisi lain, program ini juga memberikan pengalaman langsung kepada guru dalam mengikuti pelatihan secara daring.

Tujuan 

  • Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman guru tentang Desain Universal untuk Pembelajaran (Universal Design for Learning/UDL).
  • Meningkatkan pemahaman dan memberikan pengalaman langsung kepada guru tentang pengisian instrumen Profil Belajar Siswa (PBS).
  • Meningkatkan pengetahuan dan memberikan pengalaman langsung kepada guru tentang pembuatan perencanaan pembelajaran yang akomodatif dalam setting pendidikan inklusif.
  • Meningkatkan pengetahuan dan memberikan pengalaman langsung kepada guru tentang Strategi Pelaksanaan Pembelajaran dalam Setting Pendidikan Inklusif.
  • Meningkatkan pengetahuan dan memberikan pengalaman langsung kepada guru tentang Evaluasi Pembelajaran.

1. Desain Universal untuk Pembelajaran

Dalam setting pendidikan inklusif, guru dihadapkan pada keragaman peserta didik baik dalam potensi, tantangan maupun kebutuhannya. Hal ini tentu saja dapat menjadi stimulus yang positif bagi guru untuk terus mengembangkan rencana pembelajaran yang dapat mengakomodasi keberagaman di kelasnya.  

Universal Design for Learning (UDL) atau desain universal untuk pembelajaran adalah sebuah kerangka pembelajaran bagi peserta didik dengan kebutuhan belajar yang beragam dan menekankan pada pembejalaran yang fleksibel, bermakna serta keterlibatan. UDL dapat dijadikan sebagai kerangka kerja bagi guru dalam menyusun rencana pembelajaran yang lebih efektif di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif (SPPI).

Materi pada modul ini membahas apa itu desain universal, implementasi desain universal untuk pembelajaran, konsep dasar UDL, definisi, tujuan dan prinsip-prinsip UDL. Peserta pun akan belajar melakukan pengumpulan data dan informasi terkait dengan potensi dan tantangan sekolah serta menganalisisnya guna mendukung implementasi UDL sesuai dengan pembelajaran di sekolah masing-masing.





kita dapat mempelajari lebih lanjut ateru UDL dengan mendownload MATERI UDL

Eksplorasi Konsep Desain Universal untuk Pembelajaran

Desain universal adalah desain dan komposisi dari suatu lingkungan sehingga dapat diakses, dipahami, dan digunakan semaksimal mungkin oleh semua orang tanpa memandang usia, ukuran, kemampuan, atau kecacatannya (Otoritas Disabilitas Nasional, 2019). 

Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai desain dapat dipelajari pada link berikut:

Prinsip UDL

  • Multiple means of engagement 🡪 Melakukan berbagai cara keterlibatan peserta didik dalam mendukung pembelajaran afektif (yaitu, mengapa kita belajar): Mempertimbangkan bagaimana melibatkan peserta didik guna merangsang minat dan memotivasi dalam proses belajar melalui kegiatan seperti pembelajaran kolaboratif, permainan dan simulasi, nyata dan virtual.
  • Multiple means of representation 🡪 Menyediakan berbagai sarana yang memadai untuk mendukung pembelajaran yang dapat  memberikan makna (Menyediakan konten melalui berbagai cara, seperti diskusi, bacaan, teks digital, dan presentasi multimedia)
  • Multiple means of action and expression 🡪 Menyediakan berbagai cara yaitu berupa tindakan dan ekspresi dalam upaya mendukung proses pembelajaran yang strategis (yaitu, bagaimana kita belajar): Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka dalam berbagai cara seperti melalui tes atau makalah, melalui seni, presentasi multimedia, dan rekaman digital.

2. Profil Belajar Siswa

Pengelolaan Pembelajaran di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif bukan hanya memberi manfaat bagi peserta didik penyandang disabilitas, melainkan juga bermanfaat bagi guru dalam meningkatkan kompetensinya melalui pengayaan, variasi rencana, dan strategi pembelajaran sehingga dapat menciptakan lingkungan dan kelas yang ramah bagi semua anak.

Identifikasi hambatan belajar peserta didik dapat dilakukan oleh siapa saja. Guru memiliki pengamatan yang leluasa untuk melihat hambatan belajar yang dialami peserta didik, yaitu dengan cara mengamati aktifitas dan partisipasi peserta didik yang bersangkutan di lingkungan sekolah. Pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengidentifikasi hambatan belajar peserta didik dan partipasinya di lingkungan sekolah merupakan faktor kunci keberhasilan guru untuk membelajarkan peserta didik di kelas yang beragam. 


Tujuan Identifikasi hambatan belajar peserta didik dapat meningkatkan partisipasi dalam pembelajaran dan membantu mengurangi atau menghilangkan hambatan belajar dan dapat berpartisipasi di kelas secara optimal sesuai dengan potensinya.



untuk memperdalam materi Profil Belajar Siswa dapat mempelajari materi melalui link berikut

Pengertian disabilitas fungsional oleh WHO adalah hal yang menghambat atau mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas karena suatu kondisi. Contoh, peserta didik tidak dapat membaca ukuran tulisan “awas” atau sulit membaca tulisan di papan tulis, atau sulit berjalan dan menaiki tangga, atau sulit mengikuti aturan, atau sulit berteman, dan lain-lain.

Identifikasi disabilitas fungsional dilakukan untuk memberikan informasi dan  membantu guru mengidentifiksai dalam menentukan ragam dan tingkat disabilitas fungsional yang ditemukan pada siswa dengan mengisi instrumen PBS. Kita seharusnya mulai berpikir dan melihat kesulitan apa saja yang ditemukan pada peserta didik dalam melakukan aktivitas, dalam berpartisipasi dalam pembelajaran. Tidak lagi melihat gangguan pada bagian anggota tubuh, dan tidak terlalu berpikir tentang penyebab peserta didik mengalami kesulitan, yang haru kita pikirkan adalah bagaimana peserta didik dapat memaksimalkan potensi yang dia miliki, mereduksi hambatan yang dia alami, dan memenuhi kebutuhan belajarnya.

Identifikasi kesulitan disabilitas fungsional dapat dilakukan oleh siapa saja. Guru atau sekolah akan lebih tepat dan sesuai untuk melihat kesulitan yang dialami peserta didik dalam aktifitas dan partisipasi di lingkungan sekolah, dan tidak tepat bagi guru untuk menentukan atau melabeli peserta didik “A” adalah penyandang disabilitas Autis, peserta didik “B” penyandang disabilitas lamban belajar, dan lain sebagainya. Untuk menentukan hal tersebut guru tidak mempunyai kewenangan. Oleh karena itu, biarkan tenaga medis/psikolog yang melakukan hal tersebut, karena mereka punya kewenangan untuk hal tersebut.

3. Perencanaan Pembelajaran dalam Setting Pendidikan Inklusif

Sebelum kita belajar tentang perencanaan pembelajaran dalam setting pendidikan inklusif, mari kita saksikan video berikut ini:


Pelaksanaan pembelajaran yang baik tentu berawal dari perencanaan pembelajaran yang baik pula. Di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif, perencanaan pembelajaran yang dibuat harus dapat mengakomodasi kebutuhan peserta didik terutama peserta didik berkebutuhan khusus. 

Kurikulum yang digunakan pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif pada dasarnya menggunakan kurikulum yang berlaku di sekolah umum/kejuruan, namun perlu fleksibilitas kurikulum atau kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan PDBK, karena hambatan dan kemampuan yang dimilikinya beragam. Secara umum, terdapat empat komponen utama yang harus ada di dalam kurikulum yang di adaptasi, yaitu tujuan, isi/materi, proses dan evaluasi/penilaian

Sesi ini membahas tentang cara melakukan adaptasi kurikulum berupa modifikasi tujuan, isi/materi, proses (pendekatan, metode, model dan media pembelajaran), penilaian (materi, waktu, dan cara) serta menyusun RPP akomodatif sesuai dengan karakteristik/keberagaman peserta didik yang dilaksanakan  dengan menggunakan kerangka UDL dan pemanfaatan PBS.

Kurikulum adaptif adalah kurikulum yang dikembangkan agar dapat mengakomodasi peserta didik dengan berbagai latar belakang dan kemampuan, dengan tujuan agar kurikulum lebih peka mempertimbangkan keragaman peserta didik dan pembelajarannya relevan dengan kemampuan dan kebutuhannya. SPPI harus mampu mengembangkan kurikulum sesuai dengan tingkat, perkembangan, dan karakteristik peserta didik.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman Anda tentang penyusunan perencanaan pembelajaran dalam setting pendidikan inklusif serta sebagai bahan Anda memeriksa kembali tugas yang sudah Anda kerjakan sebelumnya, silakan membaca/mengunduh materi berikut:


4. Strategi Pelaksanaan Pembelajaran dalam Setting Pendidikan Inklusif

Materi ini berisi tentang strategi pelaksanaan pembelajaran dan implementasi rancangan pembelajaran di sekolah yang dilaksanakan dengan berbagi pengalaman, membaca materi dan melakukan simulasi pembelajaran yang di dokumentasikan dalam bentuk video.

Pelaksanaan pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) idealnya selalu didasarkan pada hasil identifikasi dan asesmen sebelumnya. Hasil identifikasi yang berbeda dari satu peserta didik dengan peserta didik lainnya, menjadikan adanya kebutuhan yang berbeda sesuai dengan hambatan yang mereka miliki. Itulah esensi dari keberagaman peserta didik. Hal itulah yang menjadikan stimulus positif bagi guru untuk membuat beragam strategi pelaksanaan pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan peserta didiknya yang keberagaman.

Strategi pelaksanaan pembelajaran yang akomodatif bagi keberagaman peserta didik, adalah implementasi pembelajaran yang didasarkan pada profil belajar siswa (PBS) dan dari RPP akomodatif yang yang telah Anda buat dengan menggunakan kerangka desain universal untuk pembelajaran atau Universal Design for Learning (UDL) yang telah dipelajari pada sesi-sesi sebelumnya. Strategi yang Anda gunakan ditujukan untuk mencapai tujuan belajar dan kebutuhan belajar PDBK dengan tetap memfasilitasi tercapainya tujuan belajar dan kebutuhan belajar peserta didik reguler pada umumnya.



Strategi pembelajaran bertujuan untuk menentukan secara jelas rencana pembelajaran. Strategi pembelajaran dapat dikatakan sebagai rencana pembelajaran atau pembelajaran yang didalamnya terdapat struktur, keinginan untuk perubahan sikap pebelajar. Dalam strategi pembelajaran terdapat metode pembelajaran dengan teknik dan taktik yang digunakan yang bertujuan untuk (1) memastikan dengan benar bahwa tujuan belajar akan diperoleh dalam waktu singkat jika dimungkinkan; (2) mengaitkan siswa untuk dapat menukarkan atau membagi pemikiran mereka, serta meminimalisir respon yang salah tentang konsep, prinsip dan lainnya yang dipelajari oleh siswa dalam usaha untuk memahami materi; (3) memastikan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara objektif.

Strategi mengajar adalah prosedur, proses, aktivitas dan tools yang digunakan untuk memberikan bantuan dalam belajar. Strategi-strategi ini mencakup pendekatan dan aksi, serta bermacam-macam konteks. Stategi mengajar dapat berubah-ubah tergantung karakterisitik siswa; materi yang dipelajari; situasi; konteks; pengetahuan dan keterampilan dari guru.

Dalam setting pendidikan inklusif, pemilihan strategi pembelajaran berkaitan erat dengan jenis gangguan/hambatan yang dihadapi oleh peserta didik. Karena itu, kebutuhan peserta didik harus diidentifikasi secara baik pada Materi 2 (Profil Belajar Siswa) agar tidak membatasi pemilihan strategi pembelajaran maupun implementasi rancangan pembelajaran yang sudah disiapkan.

Selain itu, strategi pembelajaran dalam setting pendidikan inklusif juga harus memperhatikan prinsip-prinsip Universal Design Learning (UDL) antara lain:
  1. Multiple means of engagement : Menyediakan Berbagai cara keterlibatan untuk mendukung pembelajaran afektif (yaitu, mengapa kita belajar): Mempertimbangkan bagaimana melibatkan siswa guna merangsang minat dan memotivasi dalam belajar melalui kegiatan seperti pembelajaran kolaboratif, permainan dan simulasi, nyata dan virtual.
  2. Multiple means of representation : Menyediakan berbagai sarana yang representatif untuk mendukung cara kita memberikan makna pada Pembelajaran (Menyediakan konten melalui berbagai cara, seperti diskusi, bacaan, teks digital, dan presentasi multimedia yang dapat mengakomodasi keberagaman peserta didik baik dalam gaya belajar, potensi maupun tantangan)
  3. Multiple means of action and expression :  Menyediakan berbagai cara tindakan dan ekspresi untuk mendukung cara belajar yang strategis (yaitu, bagaimana kita belajar): Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka dalam berbagai cara sesuai minat dan potensi mereka, seperti melalui tes atau makalah, melalui seni, presentasi multimedia, dan rekaman digital, dsb.

Untuk mendalami strategi pendampingan pada masing-masing hambatan peserta didik dapat membaca materi berikut MODUL INKLUSI

5. Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran dalam Setting Pendidikan Inklusif

Dalam setiap aspek yang dikerjakan, perlu untuk dilakukan evaluasi agar dapat mengetahui sejauh mana aktivitas/kegiatan/program menjawab tujuan yang dirancangkan. Demikian juga dengan proses pembelajaran dalam setting pendidikan inklusif perlu untuk dilakukan evaluasi terhadap proses pelaksanaan, kebermanfaatan, dampak, hingga hambatan-hambatan yang membuat pelaksanaan pembelajaran belum mencapai target maksimal. 

Materi pada sesi ini berisi tentang refleksi dan rencana tindaklanjut implementasi rancangan pembelajaran yang sudah diimplementasikan dalam setting pendidikan inklusif. Evaluasi dilaksanakan dengan penilaian diri,  menuliskan hambatan yang dihadapi, dan solusi yang sudah dilaksanakan serta membuat rancangan tindak lanjut untuk perbaikan proses pembelajaran selanjutnya.

Sebagai guru bapak/ibu pasti sudah terbiasa melakukan pengukuran, penilaian (asesmen), dan evaluasi. Dikarenakan keyakinan kita bahwa proses pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan hal yang penting dan harus dilakukan oleh setiap pengajar. Karena dengan proses inilah kita akan dapat mengetahui sejauh mana proses pembelajaran yang kita lakukan dapat menjawab tujuan. 

Pada aktivitas pertama ini, Anda membaca beberapa konsep penting berkaitan dengan penilaian, pengukuran, dan evaluasi berdampak dalam proses pembelajaran. Anda juga akan membaca seperti apa konsep penilaian pada setting pendidikan inklusif, dan konsep berkaitan dengan evaluasi terutama evaluasi pembelajaran dalam setting pendidikan inklusif. 

Silahkan Anda mengunduh bahan bacaan berikut

Pada bagian eksplorasi konsep ini Anda akan mendapat sajian konsep-konsep penting yang berkaitan dengan pengukuran (measurement), penilaian (assessment), dan evaluasi model CIPPO (Context, Input, Process, Product, Outcome) 

Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi atau dalam bahasa lainnya measurement, assessment, & evaluation merupakan tiga hal penting yang perlu dilakukan oleh seorang guru. Pelaksanaan ketiga hal ini, dimaksudkan agar guru dapat mengambil keputusan yang tepat berkaitan dengan treatment apa yang akan diberikan kepada peserta didik dan dengan cara apa, sehingga dapat berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik secara holistik. Tetapi terkadang dalam implementasinya guru kesulitan untuk menentukan kapan dilakukan pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Untuk mendalami berkaitan dengan pengukuran, penilaian, dan evaluasi dapat mengunduh dan mempelajari materi berikut.


Pengukuran (Measurement)

Pengukuran merupakan proses untuk memperoleh deskripsi terhadap tingkatan pencapaian seorang peserta didik secara numerik (angka). Pengukuran dimaksudkan untuk mengetahui sudah sampai pada tingkatan mana pencapaian seorang peserta didik secara spesifik yang ditunjukkan dengan angka-angka sehingga dapat membandingkan hasil belajar dengan standar yang diberikan sehingga dapat memberikan keputusan terhadap proses dan hasil belajar.

Penilaian (Assessment)

Penilaian adalah proses mengumpulkan informasi dengan berbagai cara untuk memantau kemajuan dan kinerja peserta didik serta membuat keputusan jika diperlukan (Anderson. 2003; Miller, Linn, Gronlund. 2009). Penilaian dapat mencakup tes, tetapi juga mencakup metode seperti observasi, wawancara, menjawab pertanyaan, laporan diri peserta didik, membuat esay dan lainnya. Asesmen dibagi dalam tiga bagian yakni Asesmen Diagnostik, Asesmen Formatif, Asesemen Sumatif. Ketiga jenis asesmen ini dikenal juga dengan sebutan; assessment as learning, assessment for learning, assessment of learning. 

Evaluasi (Evaluation) 

Evaluasi merupakan proses berdasarkan hasil penilaian dengan menginterpretasikan dan mendeskripsikan hasil pengkuruan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Sehingga terjadi pengambilan keputusan. 

Model Evaluasi dengan CIPPO (Context, Input, Process, Product, Outcome)

Model evaluasi CIPP yang dikemukakan oleh Stufflebeam & Shinkfield (1985) adalah sebuah pendekatan evaluasi yang berorientasi pada pengambil keputusan (a decision oriented evaluation approach structured)  memberikan bantuan bagi guru, administrator, pemimpin dalam pengambilan keputusan. CIPPO merupakan akronim dari Context, Input, Process, Product, Outcome. 

Context (Konteks) berkaitan dengan menggambarkan dan merinci lingkungan, kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, dan tujuan program. Evaluasi Konteks dapat mendiagnostik suatu kebutuhan yang seharusnya tersedia (Isaac and Michael 1981).

Input (Masukan) berkaitan dengan kemampuan awal peserta didik dan sekolah dalam menunjang program, antara lain kemampuan sekolah dalam menyediakan petugas yang tepat dan sebagainya.

Process (Proses) diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan di dalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana. Evaluasi Proses menurut Stuflebeam merupakan pengecekan berkelanjutan atas implementasi rencana.

Product (Produk) bertujuan tujuan untuk mengukur, menginterpretasikan dan menilai pencapaian program. Berkaitan dengan apa yang dihasilkan.
Outcome (Dampak) berkaitan dengan kebermanfaatan program yang dilakukan terhadap peserta didik, secara pribadi, dan sekolah.

6. Pengantar Microlearning

Pandemik Covid-19 memaksa kita untuk melakukan inovasi-inovasi pembelajaran untuk membelajarkan peserta didik secara mandiri dengan atau tanpa bimbingan dari seorang pendidik (guru). Saat seperti ini, pembelajaran online (dalam jaringan) menjadi pilihan. Guru bisa membelajarkan peserta didik dengan tanpa kehadiran mereka di kelas.

Di sisi lain, aktivitas online di masyarakat sudah semakin mewabah. Semua aktivitas senantiasa berkaitan dengan online, mulai dari sewa kendaraan, pesan makanan, konsultasi medis, pembelian tiket, menyewa paket hiburan, dan lain sebagainya semua bisa dilakukan dari telapak tangan kita. Termasuk keikutsertaan dalam pembelajaran, pelatihan, dan berbagai bimbingan teknis, tanpa harus repot mendatangi sekolah atau kampus tempat belajar. Untuk hal tersebut kita mengenalnya dengan online learning atau online training.

Seiring berjalannya waktu, online learning atau online training telah berkembang menjadi lebih fleksibel dan lebih mudah diakses. Hal ini menyebabkan variasi metode, media, dan pendekatan pembelajaran semakin beragam. Variasi tersebut membuat pengalaman belajar menjadi salah satu faktor penting bagi peserta didik masa kini (modern learner). 

Guru memiliki waktu terbatas untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka. Baik peningkatan pemahaman konten, maupun peningkatan keterampilan pedagogik. Dengan kesempatan yang terbatas, maka guru perlu menyesuaikan strategi dan media belajar mereka yang lebih efektif.

Microlearning sebagai salah satu metode 0nline learning dapat membantu mengatasi kendala waktu belajar daru guru-guru. Microlearning menyajikan konten-konten belajar yang dapat diakses guru-guru sesuai dengan kebutuhan guru dengan waktu yang relatif singkat. Salah satu fungsi microlearning adalah “learn just in time, not just in case”, yaitu belajar sesuai dengan kebutuhan saat itu dalam waktu yang relatif singkat. 

Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus dalam waktu dekat akan segera merilis portal microlearning yang dapat diakses oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan. Khususnya untuk materi-materi program khusus bagi guru yang memfasilitasi belajar peserta didik penyandang disabilitas.

Untuk mempelajari konsep microlearning, silakan buka tautan-tautan berikut:
  1. Konsep dasar microlearning: Mengenal Mobile-Based Microlearning | Sunedu.id
  2. Contoh-contoh video microlearning untuk bahasa isyarat: https://bit.ly/video_microlearning 
  3. Jurnal tentang penggunaan microlearning: https://bit.ly/jurnal_microlearning 
#GBBPPSPPI #GuruBelajar #PendidikanInklusif,

Sabtu, 25 September 2021

Apa dan Mengapa harus Google Keep

Siapa yang di sini suka menulis catatan? saya termasuk orang yang suka menulis catatan, karena saya rasa penting untuk mencatat sesuatu yang mungkin kita tidak bisa ingat setiap waktu.Saya sering membuat catatan di block note untuk mencatat hal-hal penting yang mungkin akan saya saya perlukan.

Saya suka mencatat dari hal yang sangat biasa hingga hal yang penting, seperti saya suka mencatat ide-ide atau bahkan saat saya berbelanja dengan menulis daftar belanjaan dan saya juga sering menulis catatan-catatan mengenaibmateri yang butuh untuk saya catat mulai dari materi yang ringan sampai yang kompleks.

Tetapi saat saya menulis di block note saya menemukan kendala, saat block note saya hilang maka catatan saya pun juga ikut hilang atau disaat block note saya tertinggal di maka saya tidak bisa melihat hal-hal penting yang sudah saya catat di block note.

Belum lagi saat blocknet saya habis otomatis saya juga akan mengganti block Note tersebut dengan block Note baru dan catatan yang sudah terlulis di blocknote lama harus saya simpan di suatu tempat yang memakan banyak ruang.Saat mencatat di bloknote juga mendapat masalah lain, adalah disaat saya harus mencari catatan-catatan yang penting di block note.  Saya merasa kesulitan jika harus mencari banyak catatan di block Note yang sudah tersimpan,saya harus membuka lembaran nya satu persatu. Pernah suatu ketika saya tidak menemukan catatan yang sudah terlulis karena terlalu banyak catatan yang ada.

Masalah masalah tersebut sangat mengganggu saya terutama saat saya akan mencari catatan penting yang harus saya dapatkan segera.Berdasarkan masalah tersebut google menghadirkan solusi yang sangat memudahkan kita untuk tetap mencatat dengan mudah sekaligus mencari catatan sebut dengan cara yang sangat mudah pula ditambah dengan fitur-fitur lain yang membuat catatan kita semakin lengkap dan mungkin kita belum pernah membayangkan sebelumnya.Solusi itu terdapat dalam Google Keep.


Apa itu Google Keep?

Google Keep adalah salah satu aplikasi dari google yang dapat memfasilitasi kita untuk membuat catatan dengan lebih terorganisir mudah dan penuh dengan kelengkapan-kelengkapan yang dapat kita pergunakan untuk memperkaya catatan kita.

Kali ini saya akan fokus membahas google keep via mobile karena saya rasa itu hal praktis yang dapat kita gunakan dalam kegiatan sehari-hari.Terlebih kita setiap hari tidak bisa lepas dari gadget atau HP sehingga kita pasti akan mendapat manfaat Google Keep bia mobile lebih sering daripada kita mempergunakan Google Keep via web,perlu digarisbawahi bahwa fitur yang ada di Google Keep di via mobile mempunyai fitur yang sama dengan google keep via web.Google keep adalah aplikasi yang wajib ada di gadget saya, Yuk kita bahas, Mengapa harus Google Keep dan keuntungan apa saja yang dapat kita dapatkan?

Kotak Centang

Kotak centang adalah fitur Google Keep yang sangat familiar dan sangat membantu kita untuk menulis catatan. Dengan fitur kotak centang kita bisa menyisipkan ceklis untuk catatan kita yangvmembutuhkan daftar untuk bisa di ceklis. sebagai contoh kita bisa menggunakannya untuk daftar belanjaan ataupun daftar bacaan, dan mengklik kotak centang untuk menandai daftar yang sudah kita laksanakan. Saat kita mengklik kotak centangnya maka daftar tersebut akan menuju ke arah bawah dan yang tersisa di bagian atas  hanya terlihat daftar yang belum kita centang sehingga kita dapat melihat bagian bagian mana yang sudah terlaksana ataupun yang belum terlaksana sangat mudah bukan? Yuk kita praktekkan 

Menyisipkan Gambar

Melalui Google keep kita juga dapat menyisipkan gambar yang sesuai dengan catatan kita ataupun hanya untuk sekedar menghiasinya catatan kita agar lebih indah dan mudah untuk dicari.Gambar juga dapat kita modifikasi dengan menambahkan coretan-coretan yang mungkin berguna ya untuk memperjelas suatu bagian yang akan kita tunjukan atau kita tampilkan di gambar tersebut.

Merubah Latar Warna

Kita dapat menggganti latar warna catatan untuk memudahkan dalam mencarinya. Warna-wara cerah itu juga dapat membantu memperindah kumpulan catatan kita agar tidak hanya latar putih yang nampak. Perbedaan warna juga mempermudah kita melihat pemisah dari masing-masing catatan,selain itu kita juga dapat menata letak dari masing-masing hanya dengan drag and drop saja. 

Mengubah Gambar Menjadi Tulisan

Fitur yang tidak kalah penting di google keep adalah bisa merubah  gambar yang kita upload untuk mengambil bagian teksnya dan dapat kita edit sesuai dengan kebutuhan kita. Jadi kita tidak perlu mengetik ulang jika kita akan mengambil bagian teks tersebut, cukup hanya dengan menguploadnya dan mengambil bagian teks maka kita sudah bisa mendapatkan salinan dari teks yang ada di gambar tersebut.

Mencatat dengan Voice Note

Ini dia fitur yang saya suka, Google Keep bisa seketika merubah Voice note menjadi catatan yang sesuai dengan apa yang kita ucapkan.Kita bisa menggunakan fitur 'merekam' untuk catatan yang otomatis tertulis berdasarkan suara kita.

Pengingat Waktu

Google Keep juga bisa menjadi sahabat setia kita untuk mengingatkan sesuatu, kita bisa membuat catatan dan mengatur pengingat sesuai dengan waktu yang kita butuhkan. Kita juga bisa mengatur untuk diulangi setiap hari ataupun setiap waktu yang kita butuhkan.Sebagai contoh kita bisa mengatur pengingat untuk sesuatu rapat ataupun momen-momen penting yang harus kita lakukan pada hari tersebut,1 hal yang tidak bisa dilaksanakan di blocknote yang dahulu kita gunakan.

Pengingat Lokasi

Selain pengingat waktu google keep juga bisa menyetel pengingat sesuai dengan tempat yang kita kunjungi,jadi kita bisa mendapatkan pengingat jika kita berada pada tempat yang sebelumya kita sudah setinng.Sebagai contoh kita menyeting untuk mendapatkan pengingat 'belanja barang-barang kebutuhan jika kita ada di supermarket,maka saat kita berada di supermarket' seketika kita akan mendapatkan pengingat itu saat kita berada di supermarket .Untuk fitur ini Google Keep berkolaborasi dengan Google Maps yang akan melihat tempat-tempat mana yang akan kita datangi, lagi-lagi Google keep dapat menjadi sahabat setia kita untuk menjadi pengingat,kali ini berdasarkan tempat yang kita kunjungi.


Mengumpulkan Serpihan Ide

Ide memang bisa datang kapan saja,terkadang ide datang saat kita di situasi yang tidak memungkinkan untuk mencatatnya,bakan disaat tidak sedang membawa block note. Google keep adalah salah satu cara untuk mengumpulkan serpihan ide yang kadang datang di saat yang tidak terduga.Saya terbiasa mencatat ide-ide sekecil apapun di google keep karena saya percaya materi yang besar adalah bermula dari ide-ide kecil itu. Google keep sangat membantu saya untuk hal ini.


Menambah Kolaborator


Mencatat materi atau menulis ide akan lebih mudah jika dilakukan bersama-sama. Google keep bisa memfasilitasi itu,kita bisa mencatat sesutu dengan berkolaborasi dengan teman hanya dengan menambahkan email mereka. Kita dapat berkolaborasi menulis catatan ataupun ide dengan berkolaborasi guna menambah kekayaan ide yang ada. 

Mengirim Catatan

Catatan yang sudah selesai dapat kita kirim untuk pihak yang berkebutuhan. Kita dapat menyalin menjdi salinan dokumen ataupun mengirim lewat aplikasi lain seperti gmail,drive,chat,facebook,instagram atau bahkan whatsapp lho. Masih banyak aplikasi yang dapat mengirimkan hasil catatan kita sesuai dengan jenis aplikasi yang kita punya

Itulah jawaban mengapa google keep menjadi salah satu aplikasi yang harus ada di gadget kita.kemudahan,kenyamanan dan kekayaan fiturnya sangat membantu kita untuk memperkaya catatan yang kita miliki.

Yuk coba google keep sekarang.



Kamis, 16 September 2021

Rangkuman Materi Pelatihan Seri Semangat Guru : Kemampuan Nonteknis dalam Adaptasi Teknologi Tahun 2021

Seri Semangat Guru : Kemampuan Nonteknis dalam Adaptasi Teknologi Tahun 2021 adalah Program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi kemampuan nonteknis sebagai pendukung penggunaan teknologi dalam kegaiatan belajar mengajar. Akselerasi teknologi dalam dunia pendidikan akan berdampak lebih besar jika diaplikasikan dengan cara berpikir kritis, komunikasi yang baik, kreativitas dan kolaborasi, atau yang juga dikenal dengan 4C (Critical Thinking,
Communication, Creativity, Collaboration).


TUJUAN: 

Akselerasi teknologi di dunia pendidikan sedang berlangsung. Ini adalah program pembelajaran yang dirancang untuk memberikan pembekalan kemampuan nonteknis bagi para guru dalam proses adaptasi teknologi pendidikan yang terus berjalan. 

Mengintegrasikan teknologi dan kemampuan nonteknis ke dalam kelas dapat menginspirasi  kolaborasi, komunikasi, pemikiran kritis, dan kreativitas sehingga hasil kegiatan belajar mengajar lebih jitu dan berdampak besar. 

SUSUNAN COURSE:

6 pelajaran dalam seri pembelajaran ini, yaitu: 

  1. Resilience: Tangguh & Teknologi 
  2. Critical thinking: Berpikir Kritis & Teknologi
  3. Creativity: Konten & Teknik Penceritaan
  4. Communication: Komunikasi Efektif
  5. Empowered Teacher: Penerapan Kelas Campuran
  6. Collaboration: Kolaborasi & Dampak

LANGKAH BELAJAR

  • Tahap 1 : Peserta mendaftar di portal Guru Belajar Berbagi
  • Tahap 2 : Peserta mengikuti pelatihan yang terdiri dari 6 pelajaran
  • Tahap 3 : Peserta mendapatkan sertifikat setelah mengerjakan semua tugas dan kuis dengan total 32 JP

ALUR BELAJAR

  1. Peserta menyelesaikan tes prapenilaian di portal daring Guru Belajar & Berbagi.
  2. Peserta belajar dari pemaparan para trainer.
  3. Peserta mengerjakan penilaian tengah dan diberikan tugas untuk belajar mandiri.
  4. Setelah mengerjakan tugas, peserta mengerjakan kuis penilaian akhir.
  5. Peserta kembali mengerjakan alur yang sama untuk pelajaran berikutnya sampai total mengerjakan 6 pelajaran.

Pelajaran 1 – Resilience: Tangguh & Teknologi



Apa itu resiliensi?

Ilmuwan psikologi biasanya menggunakan istilah ‘lenting’ untuk menyepadankan kata resiliensi (resilience), yaitu: kemampuan sesorang untuk bangkit setiap kali mengalami desakan mundur, atau bahkan kegagalan. 

Kerangka SAMR sebagai peta perjalanan menjadi matang dalam marathon menuju elearning yang efektif

SAMR adalah suatu kerangka yang mengilustrasikan tingkat kematangan seseorang memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Tingkat kematangan ini terdiri dari (mulai dari tingkat pemula ke mahir): Substitution, Augmentation, Modification, dan Redefinition. Semakin matang kita dalam memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, semakin besar peningkatan proses dan hasil yang terjadi dalam pembelajaran. 

Apa kaitannya SAMR dan Resiliensi dengan Bapak dan Ibu memelajari teknologi?

Pertanyaan paling menjebak dalam elearning adalah aplikasi apa (lagi) yang harus pelajari untuk mengembangkan permbelajaran? Jika anda terjebak di pertanyaan ini, maka anda tersangkut terus-menerus di tingkat Substitution.

Pertanyaan yang tepat adalah: bagaimana lagi cara saya menggunakan teknologi (hardware dan aplikasi) yang sudah saya pelajari ini untuk mengembangan pembelajaran? Setiap tingkat lanjut (Augmentation, Modification, dan Redefinition) menuntut kita untuk mengubah kegiatan dan/atau tujuan pembelajaran. Mengetahui ini (kegiatan dan tujuan pembelajaran) membantu Bapak dan Ibu bisa menakar dengan lebih akurat berapa besar resliensi yang diharapkan dari Anda untuk menerobos masing-masing tingkat tersebut. 


kita dapat mempelajari kerangka SAMR pada link berikut KERANGKA SAMR

kita dapat mempelajari hubungan resiliensi dan SAMR pada link berikut RESILIENSI DAN KERANGKA SAMR


Pelajaran 2 – Critical Thinking: Berpikir Kritis & Teknologi



Apa itu berpikir kritis?

Kata ‘berpikir kritis’ sudah menjadi kosa kata  harian kita. Dunia pendidikan menuntut guru mampu menumbuhkan berpikir kritis pada murid-murid mereka, bukan hanya sebagai kemampuan, tapi sebagai keterampilan. 

Namun demikian, banyak dari kita yang tidak sadar apa sebetulnya berpikir kritis. CriticalThinking.org mendefinisikan berpikir kritis sebagai, “proses berpikir (observasi, refleksi, menalar) yang disiplin, mahir, dan aktif dalam membuat konsep dari, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan/atau mengevaluasi informasi.

Kolegas saya, Prof. Dr. Bagus Takwin, mendefinisikan berpikir kritis sebagai, “ keterampilan seseorang dengan akurat memutuskan sikapnya terhadap suatu informasi: setuju, tunda, atau tidak setuju”.

Perhatikan bahwa setiap kata kunci dalam berpikir kritis adalah kosa kata kita sehari-hari. Untungnya, ini membuat berpikir kritis mudah dipahami dan dipelajari. 

Bagaimana menumbuhkan berpikir kritis menjadi keterampilan?

Setiap orang mampu berpikir kritis. Namun demikian, untuk menjadi keterampilan, berpikir kritis harus dipraktikkan setiap saat. Semakin dilatih, semakin akurat, dan akhirnya semakin menjadi insting.

‘Saya jadi sadar, saya jadi terpikir” sebagai teknik latihan berpikir kritis.

Episode ini membekali anda dengan keterampilan sederhana untuk menumbuhkan berpikir kritis pada murid anda. 

Praktik ini terdiri dari dua komponen:

  • Observasi: Diekspresikan lewat pernyataan, “Saya baru sadar bahwa…”
  • Insight: Diekspresikan lewat pernyataan, “Saya jadi terpikir …. (bahwa/jangan-jangan/pantesan)”

Latihan ini sangat sederhana, hanya menuntut dua syarat. Anda harus:

  • Menjadikannya sebagai kebiasaan anda dulu. 
  • Mendemonstrasikan di hadapan murid
  • Mengintegrasikan kebiasaan ini dalam tugas murid

Apa kaitannya dengan pembelajaran dengan teknologi?

Teknologi adalah mitra yang tepat untuk mempraktikkan berpikir kritis. Perhatikan fitur apa (dalam aplikasi yang anda gunakan) yang dapat digunakan untuk mendemonstrasikan berpikir kritis. Pastikan murid mempraktikkan “saya sadar, saya berpikir” di berbagai kesempatan murid menggunakan teknologi (ketika tanya jawab di video meeting, ketika menyusun materi presentasi, ketika diskusi online di chat group, ketika memberikan komentar di LMS, dan lain-lain). 

kita dapat mempelajari materi berpikir kritis melalui link berikut BERPIKIR KRITIS


Pelajaran 3 – Creativity: Konten & Teknik Penceritaan


Apa itu kemampuan bercerita? 

Kesanggupan atau kekuatan yang dimiliki oleh individu untuk menyampaikan gagasan/ide secara lisan maupun tulisan yang mengisahkan tentang perbuatan, pengalaman atau kejadian.

Apa itu konten?

Segala bentuk komunikasi, terutama audio visual, yang berisi sebuah informasi, hiburan atau ajakan

Tiga tahap membuat konten

  • Praktik ini terdiri dari tiga komponen:
  • Membuat Rencana
  • Mengeksekusi
  • Memasarkan

Apa kaitannya dengan pembelajaran dengan teknologi?

Kemajuan teknologi dapat membantu kita dalam mengolah kemampuan bercerita. Kejujuran menjadi faktor yang penting.

Selalu kembali dengan melihat diri sendiri. Menarik atau tidak? Informatif atau tidak. Membuat peduli atau tidak? Kita sebagai pembuat  konten selalu dapat menjawab dengan tepat, tapi hambatan terbesarnya: Apakah kita bisa jujur pada diri sendiri?

kita dapat  Membuat Konten dengan Teknik Penceritaan dengan belajar melalui link berikut TEKNIK PENCERITAAN

Pelajaran 4 – Communication: Komunikasi Efektif

Apa itu Komunikasi Efektif? 

Komunikasi yang efektif adalah proses pertukaran ide, pemikiran, pengetahuan dan informasi  yang disajikan dengan cara yang paling dipahami oleh penerima  sehingga tujuan atau niat dapat terpenuhi dengan sebaik mungkin. 

Komunikasi Efektif di Era Komunikasi Virtual

Dalam keadaan pandemi dimana manusia tidak dapat bertemu, dibutuhkan sebuah metode komunikasi yang sesuai sehingga interaksi dan hubungan baik tetap dapat terjalin dengan adanya komunikasi yang efektif. Disinilah teknologi berperan sebagai perangkat  yang menghubungkan interaksi sosial. 

Komunikasi yang efektif mencakup keterampilan seperti komunikasi  verbal dan nonverbal, mendengarkan dengan penuh perhatian, kemampuan untuk memahami dan mengendalikan emosi dan mengelola stres. Keterampilan ini perlu dikembangkan dan diasah. 

Di era komunikasi virtual, tantangan bagi kita adalah bagaimana menerapkan dan mengasah kemampuan komunikasi dengan baik ketika harus selalu siap beralih metode komunikasi , baik secara virtual maupun tatap langsung. 

Bagaimana Mengasah Kemampuan Komunikasi secara Virtual maupun Tatap Langsung? 

Pada dasarnya komunikasi secara langsung maupun virtual mempunyai beberapa kegiatan sebagai berikut: 

  • Membina hubungan baik
  • Membagikan Informasi
  • Saling mendengar
  • Saling mengerti

4 Kegiatan tersebut bisa dipraktekkan dalam pembelajaran virtual atau tatap langsung dengan mempertimbangkan  beberapa faktor berikut ini : 

  • Keadaan
  • Perasaan/Emosi
  • Kebutuhan
  • Permintaan berdasarkan perasaan dan kebutuhan. 

Dengan menyadari beberapa faktor-faktor di atas, komunikasi akan selalu dilakukan dengan  sebuah kesadaran  akan sebuah tujuan yang ingin dicapai secara bertahap, untuk kemampuan komunikasi yang selalu berkembang dan lebih baik. 

Komunikasi dan Teknologi 

Teknologi adalah sarana untuk mempraktikkan kesadaran untuk berkomunikasi di masa yang terus berkembang dan seringkali tidak menentu. Teknologi adalah alat untuk menguji ketangguhan kita untuk terus memperbaiki metode komunikasi yang dibutuhkan. . Tetapi apapun gawai yang kita gunakan, alat yang paling canggih adalah kemampuan nonteknis diri sendiri yang senantiasa kita kembangkan sesuai dengan kemajuan zaman. 

kita dapat mempelajari materi komunikasi efektif pada link berikut KOMUNIKASI EFEKTIF

Jumat, 10 September 2021

Jamboard si Papan Tulis Digital


Papan tulis merupakan media guru untuk memperlancar penyampaian materi kepada siswa. Dengan adanya papan tulis guru dapat menyampaikan materi yang mungkin tidak dapat disampaikan secara lisan. Papan tulis juga dapat menjadi media untuk memperjelas topik materi dengan menuliskan topik materi di sana. Siswapun juga dapat menunjukan kemampuan menggambar atau nengerjakan soal melalui papan tulis. Beragam fungsi papan tulis di atas dapat membantu siswa dapat menerima materi yang disampaikan guru dengan mudah dan lebih jelas. Untuk itu hampir di setiap ruang kelas terdapat papan tulis baik berupa whiteboard ataupun blackboard.                                

Seiring berkembangnya tekhnologi,papan tulis tiga dimensi yang mempergunakan kapur tulis maupun spidol sebagai media untuk menulis pun juga mengalami perkembangan. Kini kita kenal dengan papan tulis digital.

apa itu papan tulis digital?

papan tulis digital adalah papan tulis yang memiliki fungsi sama dengan papan tulis tiga dimensi hanya saja berbasis digital.


siapa papan tulis digital itu?

perkenalkan Jamboard si papan tulis digital


Jamboard adalah salah satu fitur di google workspace for education yang mampu memfasilitasi guru untuk menggantikan papan tulis tiga dimensi yang mungkin di suatu kondisi guru tidak dapat menggunakannya. Mungkin di situasi pandemi seperti saat ini yang mengharuskan belajar dirumah melalui virtual/daring ataupun pada di suatu kondisi mengajar luring dimana tidak tersedianya fasilitas papan tulis tiga dimensi tetapi guru harus menjelaskan suatu materi yang dirasa lebih mudah dengan papan tulis. Nah, papan tulis digital ini dapat menjadi solusi.


menu tool yang lengkap

Jamboard memiliki menu tool di samping kiri untuk mempermudah guru dalam menulis seperti pena,penghapus,pilih,stickynote,gambar,lingkaran,teksbox,dan laser.



seperti halnya papan tulis,Jamboard dapat digunakan untuk menulis melualui goresan tangan guru. Terdapat pilihan pena untuk menulis seperti pena,spidol kuas dengan masing-masinf pilihan warna yang dapat diseseuaikan dengan kebutuhan.Jamboard juga dapat membuat teksbox dengan bermacam pilihan warna,model dan perataan huruf.


keunggulan lain


Menyisipkan gambar juga menjadi salah satu keunggulan Jamboard. Guru dapat menyisipkan gambar yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran sekaligus dapat membuat penanda bagian gambar yang penting untuk dapat dijelaskan. Tidak terbayangkan jika guru harus menggambar organ peredaran darah di papan tulis tiga dimensi untuk menjelaskan detail materinya, Jamboard bisa memfasilitasi itu.

melalui Jamboard juga terdapat fitur memasukkan stickynote yang dapat diisi sesuai kebutuhan pembelajaran. sebagai contoh guru meminta siswa untuk menuliskan tujuan suatu proyek atau hal penting yang harus dilakukan terlebih dahulu dalam proyek,stiky note bisa menjadi solusinya dengan berbagai macam warna cerahnya. 


siswa juga dapat berkolaborasi untuk menulis,membuat stickynote ataupun menggambar di Jamboard. Hanya dengan membagikan link Jamboard yang dimaksud kepada siswa,maka siswa dapat seketika berkolaborasi. Jangan lupa untuk mengubah pengaturan menjadi 'editor' agar siswa yang dibagikan link.jamboard bisa berkolaborasi ya..

Jika papan tulis tiga dimensi harus dihapus saat ganti pelajaran,tidak demikian dengan Jamboard. Seluruh materi yang sudah ditulis atau dituangkan di Jamboard aka otomatis tersimpan di google drive sehingga dapat dilihat lagi lain waktu. Kita hanya perlu membuat Jamboard baru lagi untuk pelajaran selanjutnya tanpa harus menghapus file Jamboard sebelumnya.

Pengoptimalisasian Jamboard 

Jamboard dapat di optimalisasi dengan pemanfaatan google meet,yakni fitur meeting dari google workspace for education. Siswa dapat melalukan pembelajaran daring/virtual melalui google meet dengan dikolaborasikan Jamboard si papan tulis digital. Siswa yang juga dapat ikut berkolaborasi di Jamboard akan membuat pembelajaran virtual kita semakin bermakna.

sekian pembahasan mengenai Jamboard,semoga bermanfaat 🙂






VIRECA UNTUK PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

       Vireca adalah kepanjangan dari Virtual Reality Case atau Kasus yang disajikan melalui virtual reality. Seperti yang kita tahu bahwa...