Sabtu, 06 Agustus 2022

Optimalisasi Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Digital: Rangkuman Materi Pembatik Level 2


PENDEKATAN TPACK DALAM PEMBELAJARAN DIGITAL

Berdasarkan gambar di atas, silakan Sahabat definisikan pembelajaran digital menurut pemahaman Sahabat.
Silakan pelajari lebih lanjut mengenai pembelajaran digital pada tautan berikut:  https://s.id/Tautan1KB1  
Sebelum Sahabat menerapkan pembelajaran digital sebagai sebuah sistem instruksional, ada sebuah pendekatan yang dapat Sahabat jadikan acuan, yakni pendekatan TPACK atau Technological Pedagogical and Content Knowledge. Apa itu TPACK? Silakan pelajari modul dan sumber-sumber belajar yang relevan lainnya.


Pendekatan TPACK merupakan pendekatan pembelajaran yang memadukan antara materi, pedagogi dan teknologi. Pendekatan TPACK dapat diintegrasikan dengan model pembelajaran yang dapat melatih siswa untuk menemukan pengetahuan baru secara mandiri namun tetap mendapat bimbingan guru.



PENDEKATAN TPACK DALAM PEMBELAJARAN DIGITAL

Untuk mempersiapkan pembelajaran digital, Sahabat dapat menerapkan filosofi berpikir global bertindak lokal (think globally act locally). Singkatnya, gali pengetahuan sebanyak mungkin dari berbagai sumber, perkaya referensi, namun terapkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal.
Bagaimana cara mempersiapkan pembelajaran digital yang baik? Simak gambar di bawah ini:


Pembelajaran digital memerlukan sebuah desain lanjutan atau desain yang lebih tinggi yang disebut dengan “Advanced Methods in Distance Education” dan langsung diaplikasikan pada salah satu bentuk (tool) pembelajaran digital yaitu Web Course Tool (WebCT). Dengan menggunakan model ini akan diperoleh keberhasilan dalam pembelajaran digital. Ada beragam strategi pembelajaran digital yang dapat Sahabat terapkan. Silakan baca lebih lanjut pada modul. Pada proses pengelolaan pembelajaran digital, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan misalnya:


Untuk mengevaluasi pembelajaran digital, perlu diketahui termasuk ke dalam jenis dan fungsi yang manakah evaluasi yang Sahabat lakukan.
Simak video referensi di bawah ini:



OBSERVASI CONTOH PEMBELAJARAN DIGITAL

Observasi
Silakan Sahabat cermati contoh-contoh praktik baik pembelajaran digital di bawah ini.



Unduh Bahan Belajar


Senin, 28 Maret 2022

FUNGSI DAN MANFAAT PLATFORM MERDEKA BELAJAR 2 (PELATIHAN MANDIRI)

PELATIHAN MANDIRI


    Pelatihan Mandiri merupakan bagian dari platform Merdeka Mengajar, yang memuat berbagai materi pelatihan untuk meningkatkan kompetensi Guru sebagai pendidik. Materi dibuat singkat untuk memudahkan Guru dalam melakukan pelatihan secara mandiri, kapan pun dan di mana pun. Pada Pelatihan Mandiri, Guru akan mempelajari materi dalam bentuk teks atau video, mengerjakan latihan pemahaman, melakukan refleksi, dan melakukan aksi nyata. 
    Melalui Pelatihan Mandiri, Anda dapat mempelajari beragam materi untuk meningkatkan kompetensi profesional Anda sebagai pendidik. Keunggulan materi Pelatihan Mandiri adalah sebagai berikut:
Materi dirancang oleh para ahli agar relevan dan dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Materi dirancang singkat untuk memudahkan Anda dalam melakukan pelatihan secara mandiri, kapan pun dan di mana pun.

Mengakses Pelatihan Mandiri

1.Klik ‘Pelatihan Mandiri’ 

2.Pilih topik pelatihan yang ingin dipelajari 


3.Progres pengerjaan pelatihan mandiri Anda dapat dilihat di sini
4.Pilih modul pertama untuk mulai mengerjakan modul yang paling awal.Klik ‘Baca selengkapnya’ untuk melihat informasi detail modul 
5.Lihat dan pelajari detail modul sebagai materi pelatihan mandiri
6. ‘Klik X’ untuk kembali ke laman sebelumnya

Mempelajari materi pada modul Pelatihan Mandiri

Salah satu komponen pada pelatihan mandiri adalah mengerjakan aktivitas-aktivitas yang disediakan pada materi pembelajaran. Satu materi terdiri dari dua aktivitas untuk mengetahui berapa jauh tingkat pemahaman terhadap materi yang sudah dipelajari.
Guru akan mendapatkan materi pembelajaran dalam bentuk teks atau video. Selain itu, terdapat latihan pemahaman yang berisikan soal-soal mengenai materi yang sudah disimak sebelumnya. 

Evaluasi pembelajaran dengan mengerjakan post test

Setelah mengerjakan materi-materi pada modul, Guru perlu menyelesaikan post test. Post test merupakan kumpulan pertanyaan terkait materi pada modul tersebut. Guru perlu mendapatkan nilai minimal 70 persen untuk lanjut ke modul selanjutnya. 


Jika hasil post test belum mencapai 70 persen, Guru perlu mengulang kembali materi yang belum dikuasai dan mengerjakan post test kembali. Aplikasi akan memberikan materi rekomendasi yang relevan dari hasil post test.



Melakukan Aksi Nyata

Aksi Nyata merupakan bentuk praktik pemahaman Guru terhadap topik yang dipelajari dalam Pelatihan mandiri, sekaligus aktivitas terakhir untuk menyelesaikan satu topik Pelatihan Mandiri. 
Perlu diperhatikan bahwa Guru perlu melakukan Aksi Nyata terlebih dahulu. Setelah melakukan Aksi Nyata, Guru mendokumentasikannya ke dalam dokumen tertulis dan melengkapi Lembar Aksi Nyata di platform Merdeka Mengajar.


Sumber: Pelatihan Umum Platform Merdeka Mengajar Kemdikbud 25 Februari2022

Jumat, 25 Maret 2022

FUNGSI DAN MANFAAT PLATFORM MERDEKA BELAJAR 1 (VIDEO INSPIRASI)

 VIDEO INSPIRASI

Video Inspirasi berisi kumpulan video inspiratif yang dibuat oleh Kemdikbudristek dan para ahli. Beragam video ini sudah dikurasi dan dapat digunakan sebagai referensi untuk meningkatkan kompetensi Guru sebagai tenaga pendidik.
Melalui Video Inspirasi, Guru dapat menonton beragam video singkat yang dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan kompetensi, baik dalam aspek profesional maupun personal.

Mendapatkan referensi belajar mengajar dengan video inspirasi

1.Klik ‘Video Inspirasi’ pada laman beranda Platform Merdeka Mengajar

2.Pilih salah satu topik video inspirasi yang terdapat di laman awal video inspirasi

3.Klik ‘Baca selengkapnya’ untuk mengetahui detail topik video



4.Baca dan simak detail dari topik video inspirasi tersebut
5.Klik ‘X’ untuk kembali ke laman sebelumnya

6.Pilih salah satu video yang tersedia pada topik 

7.Klik ‘▶’ untuk mulai menyimak video

8.Klik ‘Bagikan Video’ untuk mengirim tautan video


9.Pilih kanal yang ingin digunakan untuk mengirim tautan atau Klik Salin Link untuk menyalin tautan video




Jumat, 25 Februari 2022

Mengenal Platform Merdeka Mengajar

 Latar Belakang Platform Merdeka Mengajar

Guru memiliki peran penting dalam pendidikan di Indonesia, yang dapat menggerakkan perubahan nyata, tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri namun berdampak kepada lingkungan sekitarnya.  Dengan adanya peran tersebut, Platform Merdeka Mengajar hadir sebagai platform edukasi yang dapat membantu Guru menjalankan perannya dalam mengajar, belajar, dan berkarya untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Dengan begitu, Guru dapat lebih berfokus kepada peningkatan capaian pembelajaran murid, dan memiliki kesempatan yang lebih kaya dalam meningkatkan kompetensi dan karirnya sendiri. Melalui Platform Merdeka Mengajar, Guru dapat terbantu dalam menjalankan kegiatan pembelajaran, membantu mendorong kemajuan, juga memberikan opsi yang dapat menjadi solusi atas kekhawatiran maupun hambatan yang Guru alami saat menjalankan peran sebagai pendidik.

Apa itu Platform Merdeka Mengajar?

Platform Merdeka Mengajar adalah platform edukasi yang menjadi teman penggerak untuk guru dalam mewujudkan Pelajar Pancasila serta mendukung guru untuk mengajar, belajar dan berkarya lebih baik lagi. 

 

Platform Merdeka Mengajar dapat digunakan melalui aplikasi di gawai Android atau melalui laman situs  



Untuk dapat masuk ke beberapa produk Platform Merdeka Mengajar gunakan akun Belajar.id atau madrasah.kemenag.go.id

 


 Pengguna dan Akses Platform Merdeka Mengajar

Platform Merdeka Mengajar diperuntukkan bagi para Guru, Kepala Sekolah dan tenaga kependidikan yang berkepentingan. Produk yang terdapat dalam Platform Merdeka Mengajar memiliki akses pengguna yang berbeda-beda, seperti dibawah ini :



Beranda (Homepage) 

Tampilan lama sudah diupdate menjadi Tampilan Baru (Versi 1.4.2) - last updated 28 January 2022



sumber : Pelatihan Platform Merdeka Belajar Kemdikbudristek

Rabu, 22 Desember 2021

Contoh Praktik Stimulasi [Membangun Literasi yang Menyenangkan Bagian 2]

 Story-making circle🎪

Story-making circle adalah metode interaktif  dimana guru mengajak murid-muridnya untuk  duduk melingkar dan mengarang cerita berantai  secara spontan

Langkah-Langkah melakukannya adalah sebagai berikut:
  • Guru mengajak anak-anak untuk duduk melingkar
  • Guru memulai cerita dengan memilih tema dan melontarkan kalimat pertama, misal guru  menentukan bahwa tema hari ini adalah petualangan dan memulai cerita dengan: “Pada suatu  hari, seekor anak gajah bernama Bona, pulang sekolah dengan menggunakan sepeda.”
  • Setelahnya, secara berantai sesuai arah jarum jam, peserta lain melanjutkan jalan cerita dengan  menambahkan 1 kalimat baru
  • Setelah cerita selesai, berikan apresiasi dan setelahnya ajak semua orang untuk  mengulangi membaca ceritanya secara berantai dari awal. Kali ini, cerita harus  dibacakan dengan lebih dramatis seolah-olah seperti sedang mempraktikkan  adegan di dalam dongeng
  • Di akhir pembacaan ulang cerita, guru membagi murid ke dalam beberapa  kelompok kecil. Di kelompok-kelompok kecil ini, murid ditugaskan untuk  mengembangkan pecahan-pecahan cerita yang mereka buat menjadi cerita baru
  • Tiap kelompok nantinya akan diminta untuk mempresentasikan masing-masing dari cerita baru mereka
  • Di  akhir sesi diminta menjelaskan apa pesan moral yang bisa diambil dari cerita mereka

Mereview Teks

Contoh lain untuk jenjang Pendidikan yang lebih tinggi adalah mereview teks baik itu teks berita atau jurnal ilmiah

Siswa bisa kita berikan pertanyaan dengan metode THINK setelah mereka selesai memanca teks tertentu:
T rue: Apakah teks itu benar?💯
H elpful: Apakah teks itu dapat membantu?💁🏻
I nspiring: Apakah bisa mengispirasi saya/orang lain?🤩
N ecessary: Apakah penting?✅
K ind: Apakah akan membawa kebaikan?💌

Hexagonal Thinking

Yang terakhir adalah, Hexagonal Thinking merupakan sebuah metode yang dapat digunakan siswa untuk melihat hubungan antar topik dan ide. Dapat digunakan diberbagai macam jenjang usia, untuk TK, hexagonal dapat digunakan dalam bentuk gambar

🛑Cara menggunakan hexagonal🛑
  1. Buatlah hexagonal thinking, dapat menggunakan PPT, google slide, atau dengan menyediakan secara khusus bentuk hexagonal
  2. Guru dapat menyuguhkan video, buku bacaan atau artikel kepada siswa, kemudian mintalah siswa untuk menuliskan kata kunci yang menarik untuk dimasukkan ke dalam hexagonal, 1 kata kunci untuk setiap hexagonal
  3. Guru dapat meminta siswa untuk menghubungkan setiap kata kunci yang ada, baik dengan menyampaikan secara verbal, atau melalui tulisan
Manfaat hexagonal thinking:
  1. Jika dilakukan berkelompok dapat meningkatkan kolaborasi dan komunikasi antar siswa
  2. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dengan membuat koneksi antar kata kunci siswa sedang berlatih untuk membuat koneksi baru dari pengetahuan-pengetahuan yang ada
  3. Dapat meningkatkan keterlibatan siswa
  4. Dapat menjadi formative asesment bagi guru untuk melihat sejauh apa pemahaman siswa mengenai suatu isu atau topik

Sumber : Kulwap Gerakan Sekolah Menyenangkan Prov. Jawa Tengah

Sabtu, 18 Desember 2021

Membangun Literasi yang Menyenangkan Bagian 1

 

📉*Nilai PISA kita STAGNAN* sejak tahun 2000, sangat jauh tertinggal bahkan dengan negeri tetangga kita seperti Malaysia dan Singapore

⁉️Sebuah penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar mahasiswa di Indonesia *merasa kesulitan untuk menulis essay dan aktif dalam diskusi karena sistem pembelajaran yang pasif dan tidak pernah dilatih untuk mempertanyakan gagasan* sejak sekolah dasar

Padahal, keberhasilan dalam setiap bidang pembelajaran sangat tergantung pada kemampuan untuk menggunakan literasi yang signifikan sesuai dengan konten dari mata pelajaran tersebut

Berdasarkan fakta di atas, penting bagi kita sebagai seorang pendidik untuk memahami apa itu literasi dan bagaimana kita bisa mengembangkan kemampuan literasi anak didik kita??📖

✍🏼Secara definisi, Literasi meliputi kemampuan siswa dalam mendengarkan, membaca, melihat, berbicara, menulis dan membuat teks lisan, cetak, visual dan digital, menggunakan dan memodifikasi Bahasa untuk tujuan yang berbeda dalam berbagai konteks

📔Dalam literasi, siswa membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengakses, memahami, menganalisis, mengevaluasi informasi, menginterpretasikan, mengungkapkan pikiran dan emosi, mempresentasikan ide dan pendapat, berinteraksi dengan orang lain dan berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah maupun dan di luar sekolah.


🗣️Yang pertama adalah, pengetahuan tata Bahasa

Pemahaman siswa mengenai peran tata bahasa dalam mengkonstruksi makna teks yang dibuat:

  • Menggunakanpengetahuan tentang struktur kalimat
  • Menggunakan pengetahuan tentang jenis kata dan kelompok kata
  • Mengekspresikan opini dan sudut pandang

💬Yang kedua adalah, pengetahuan teks

Siswa memahami bagaimana teks lisan, tulisan, visual, dan multimodal disusun:

  • Menggunakan pengetahuan mengenai struktur teks
  • Menggunakan pengetahuan mengenai kohesi/keterpaduan teks

🔤Yang ketiga adalah, pengetahuan kata

Dimana siswa dapat:

  • Memahami kosa kata yang dipelajari
  • Menggunakan pengetahuan tentang pengejaan

👀Yang terakhir adalah, pengetahuan visual

Dimana siswa memahami makna yang terdapat dalam informasi visual,  dapat menafsirkan gambar yang diam dan bergerak, grafik, tabel, peta dll


Keempat elemen di atas bisa kita latihkan dengan melalui:

1️⃣ Memahami teks melalui mendengarkan, membaca dan melihat

2️⃣ Menyusun teks melalui berbicara, menulis, dan berkreasi

sumber: KULWAP LITERASI GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN

Sabtu, 20 November 2021

SEKOLAH RAMAH ANAK

BAGIAN 1
Apa itu Sekolah Ramah Anak?

DEFINISI SEKOLAH RAMAH ANAK

 Ramah Anak (SRA) adalah satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang mampu memberikan pemenuhan hak dan perlindungan khusus bagi anak termasuk mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di satuan pendidikan. 

KONSEP SEKOLAH RAMAH ANAK 

Ada 4 konsep SRA, sebagaimana berikut: 1. Mengubah paradigma dari pengajar menjadi pembimbing, orang tua dan sahabat anak. 2. Orang dewasa memberikan keteladanan dalam keseharian. 3. Memastikan orang dewasa di sekolah terlibat penuh dalam melindungi anak. 4. Memastikan orang tua dan anak terlibat aktif dalam memenuhi 6 komponen SRA. 

PRINSIP SEKOLAH RAMAH ANAK

Prinsip SRA merupakan turunan dari hak dasar anak,  terdiri dari: 1. Kepentingan terbaik bagi anak 2. Non diskriminasi 3. Partisipasi Anak 4. Hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan 5. Pengelolaan yang baik 

KONDISI YANG DIHARAPKAN SEKOLAH RAMAH ANAK

Kondisi yang diharapkan dalam SRA terdiri dari BARIISAN yaitu: Bersih, Asri, Ramah, Indah, Inklusif, Sehat, Aman dan Nyaman 

KOMPONEN SEKOLAH RAMAH ANAK

  1. Kebijakan SRAKebijakan Sekolah Ramah Anak merupakan suatu komitmen daerah dan sekolah dalam mewujudkan SRA. Ditunjukkan dalam bentuk deklarasi, SK tim SRA, SK Pemerintah Daerah dan kebijakan sekolah lainnya yang berperspektif anak.
  2. Pendidik dan Tenaga Kependidikan Terlatih Hak Anak dan  SRA Minimal ada 2 orang pendidik/tenaga kependidikan yang terlatih KHA dan SRA.
  3. Proses Belajar yang Ramah Anak Menciptakan proses belajar dan mengajar yang menyenangkan. Proses pendisiplinan yang dilakukan tanpa merendahkan martabat anak dan tanpa kekerasan. 
  4. Sarana dan Prasarana Ramah Anak Memastikan menjaga agar sarana prasarana di sekolah nyaman, aman dan tidak membahayakan anak. Seperti pemasangan rambu-rambu di tempat berbahaya, pengumpulan ujung meja, toilet bersih dengan air mengalir, pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik dan lain-lain.
  5. Partisipasi Anak Anak dilibatkan dalam kegiatan perencanaan program serta tata tertib, pelaksanaan dan evaluasi SRA. Anak dijadikan sebagai pengawal SRA dan peer educator.  Hak ini dilakukan agar anak merasa diakui dan dapat berperan aktif dalam mewujudkan Sekolah Ramah Anak. 
  6. Partisipasi Orang Tua, Organisasi Kemasyarakatan, Dunia Usaha, Stakeholder lainnya dan Alumni. Melibatkan orangtua, organisasi kemasyarakatan, dunia usia, stakeholder lain dan alumni dalam mendukung sekolah ramah anak, baik berperan memberikan bantuan dalam bentuk sarana maupun kegiatan untuk mewujudkan SRA.


BAGIAN 2
PEMBENTUKAN SEKOLAH RAMAH ANAK
Tahapan Pembentukan Sekolah Ramah Anak atau Tahapan “MAU” 

Sosialisasi Sekolah ramah Anak
Sosialisasi SRA dilakukan oleh pemerintah daerah melalui Sekber SRA atau Sub Gugus Tugas KLA klaster pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya di provinsi/kabupaten/kota. Sosialisasi diberikan pada Stakeholder dalam satuan pendidikan seperti kepala sekolah atau guru penggerak. 


permintaan kepada satuan pendidikan untuk “mau” menjadi SRA 
Permintaan kepada satuan pendidikan untuk “MAU” menjadi SRA dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu: 
1) Top Down: Pemerintah Daerah atau Perangkat Daerah terkait mengajak atau meminta satuan pendidikan di wilayahnya untuk menjadi SRA. Semua satuan pendidikan yang “MAU” akan dibuatkan SK SRA ditetapkan oleh Kepala Daerah/Kepala Dinas Pendidikan/ Kanwil/Kantor Agama/ Dinas PPPA. 
2) Bottom Up: Proses dimana Satuan Pendidikan mempunyai keinginan sendiri untuk “MAU” menjadi SRA. Satuan pendidikan melaporkan kesediaannya kepada Dinas PPPA yang akan mengkompilasi dengan daftar SRA lainnya.


Penetapan SK Sekolah Ramah Anak

Pemerintah daerah membuat SK yang ditetapkan oleh Kepala Daerah atau Kepala Perangkat Daerah terkait untuk semua satuan pendidikan yang “MAU” memulai proses SRA. SelanjutnyaPemerintah daerah melaporkankepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak c.q. Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak dan Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya terhadap SK yang telah ditetapkan.


Deklarasi Sekolah Ramah Anak

Untuk memperkuat komitmen daerah dan satuan pendidikan, maka dilakukan deklarasi yang dipimpin oleh Kepala Daerah atau Perangkat Daerah terkait bersama semua satuan pendidikan yang mau menjadi SRA. Deklarasi dapat dilakukan bersama kegiatan daerah lainnya atau berupa kegiatan khusus. 


Pemasangan Papan Nama Sekolah Ramah Anak

Selanjutnya untuk memperlihatkan komitmen daerah dan satuan pendidikan dalam membentuk SRA, maka Satuan pendidikan melakukan pemasangan papan nama SRA dengan bantuan pemerintah daerah. Hal ini sebagai penanda dan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat atau eksternal satuan pendidikan dan internal satuan pendidikan.


BAGIAN 3
Pengembangan Sekolah Ramah Anak
Tahapan Pengembangan Sekolah Ramah Anak atau Tahapan “MAMPU” & “MAJU” 

TAHAPAN PENGEMBANGAN SEKOLAH RAMAH ANAK OLEH PEMERINTAH DAERAH 

  1. Advokasi Sekber SRA/Sub Gugus Tugas KLA Klaster Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang, Dan Kegiatan Budaya melakukan advokasi dengan cara audiensi/pertemuan kepada Kepala Daerah di tingkat Provinsi/ Kabupaten/ Kota, agar mendukung pelaksanaan SRA. Pelatihan dan Bimbingan Teknis
  2. Pelatihan atau Bimbingan Teknis 
  3. Fasilitasi
  4. Kegiatan yang dilakukan pemerintah daerah dalam pengembangan SRA
  • Membuat kebijakan SRA 
  • Koordinasi dengan Disdik dan Kanwil/Kantor Kemenag 
  • Membentuk Sekber SRA 
  • Sosialisasi kepada seluruh Kepala Satuan Pendidikan tingkat Provinsi/Kab/Kota 
  • Mengajak Satuan Pendidikan untuk membentuk dan mengembangkan SRA 
  • Membuat SK penetapan sekolah yang mau 
  • Deklarasi SRA 
  • Melaporkan SK penetapan kepada KPPPA 
  • Mendorong satuan pendidikan yang sudah di SK-kan untuk membuat Papan Nama SRA 
  • Memberikan Pelatihan KHA dan SRA kepada minimal 2 guru di setiap satuan pendidikan yang di SK-kan 
  • Pendampingan/monev kepada Satuan Pendidikan yang sudah di SK kan 
  • Bekerjasama dengan Dinas yang memiliki Program berbasis sekolah 
  • Mendorong semua SRA untuk mengisi kuesioner SRA di awal tahun 
  • Mengusulkan Satuan Pendidikan untuk mendapat penghargaan 
  • Membuat KIE SRA
TAHAPAN PENGEMBANGAN SEKOLAH RAMAH ANAK OLEH SATUAN PENDIDIKAN
  1. Membentuk Tim Pelaksana SRA 
  2. Menyusun ulang tata tertib Satuan Pendidikan dan mengisi daftar periksa potensi bersama Orang Tua dan Anak. 
  3. Perencanaan oleh Tim Pelaksanaan SRA
  4. Kegiatan yang dilakukan oleh Satuan Pendidikan dalam Pengembangan SRA
  • Menyusun Rencana Aksi/Program Tahunan 
  • Membuat mekanisme pengaduan 
  • Merencanakan inovasi melibatkan orang tua dan anak untuk mewujudkan SRA 
  • Merencanakan inovasi melibatkan orang tua dan anak untuk mewujudkan SRA 
  • Melaksanakan Rencana Aksi/Program SRA Tahunan dengan mengoptimalkan semua sumber daya 
  • Melakukan upaya pemenuhan komponen SRA 
  • Mengikuti pelatihan dan pendampingan oleh Pemda 
  • Merencanakan kesinambungan kebijakan, program, dan kegiatan yang sudah ada (UKS, Adiwiyata, dll) serta program lainnya


BAGIAN 4

Siapa Saja Yang Terlibat di Sekolah Ramah Anak?

Pengembangan sekolah yang ramah anak di dalam satuan pendidikan merupakan tanggungjawab pilar sekolah ramah anak yang terdiri dari Satuan Pendidikan (Sekolah atau Madrasah), Orang Tua dan Peserta Didik. Selain itu Sekolah Ramah Anak juga di dukung oleh 17 Kementerian dan Lembaga yang berkomitmen dalam pembentukan dan pengembangan, yang terdiri dari: 

1,Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 
2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 
3. Kementerian Agama 
4. Kementerian Kesehatan 
5. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 
6. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional 
7. Badan Nasional Penanggulangan Bencana 8. Badan Pengawas Obat dan Makanan 
9. Komisi Perlindungan Anak Indonesia 
10. Badan Narkotika Nasional 
11. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme 
12. Kementerian PUPR 
13. Kementerian Komunikasi dan Informasi 
14. Kementerian Dalam Negeri 
15. BAPPENAS/ Kementerian PPN 
16. Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan 
17. Kementerian Sosial 

LAMPIRAN

VIRECA UNTUK PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

       Vireca adalah kepanjangan dari Virtual Reality Case atau Kasus yang disajikan melalui virtual reality. Seperti yang kita tahu bahwa...